Minggu, 25 Agustus 2013

Circle Of Life

      Minggu pagi ketika Sudirman-Thamrin menjadi penuh oleh lautan manusia yang ingin berolahraga, sebuah taksi keluar dari pool-nya untuk bekerja, mencari berbagai penumpang yang akan menjadi rejekinya di hari libur ini. Sebuah taksi yang kukendarai. Sendiri.

     Tamu pertama datang ketika satpam RSIA Bunda memanggil sang taksi yang telah ditunggu penumpangnya yaitu seorang nenek, ibu muda dan bayinya yang baru lahir. 'Selamat datang di dunia nak…' gumamku nyaris tanpa suara.

“….. For one so small, you seem so strong…. My arms will hold you, keep you safe and warm…. This bond between us can’t be broken… I will be here, don’t you cry ….. ’Cause you’ll be in my heart… Yes, you’ll be in my heart… From this day on now and forever more….”

     Lantunan dari Mr. Philip Collins itu menyertai bahasa tubuh kasih sayang sang ibu yang berbahagia dengan kehadiran anak pertamanya, ikut menyambut kehadirannya di dunia melalui mp3 player di taksi sepanjang perjalanan. Dan sesampainya di rumah tujuan, sang nenek membayar taksi lalu mereka turun menuju rumah yang telah kehadiran anggota baru keluarganya. Aku dan taksiku melanjutkan perjalanan, meninggalkan mereka dan sebuah pertanyaan terbesit, “Lah, Bapaknya mana….?”

      Tak lama berselang seorang ibu dengan kedua anak balitanya memanggilku yang sedang lewat disekitar komplek perumahan. Dengan membawa kado dan berdandan ala pesta anak mereka menunjuk sebuah McDonald untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun….

“…..Happy Birthday to you…., this is your day…. On this day for you we´re gonna love you in every way…..” -NKOTB-

     Suasana meriah penuh keceriaan anak-anak tampak di dalam restaurant setibanya taksi di tujuan, dan penumpangnya segera bergabung dalam pesta tersebut.

      Aku kembali memacu taksiku, melanjutkan perjalanan di hari yang semakin siang. Kali ini “sepasukan abg” yang mencegat untuk diantar menonton film remaja bergenre thriller sejenis “Final Destinaton 4” yang sedang hits dikalangan pecinta film. Ah sayang, berkali-kali aku dan taksiku mampir ke bioskop, bukan untuk menonton film. Tapi sekedar menurunkan atau menaikkan penumpang.

“When I see your face..., there's not a thing that I would change.... Cause you're amazing..., just the way you are....." -Bruno Mars-

     Keceriaan senandung masa puber mereka ber-6 dalam satu taksi ini membuat gerakan “gedebukan” yang membuat gerah dimana kemudian mengotori taksiku dengan jejak tangan di jendela dan sepatu di belakang jok depan. Aku sungguh tak bersabar untuk segera sampai di tujuan!

      Setelah taksi dibersihkan sebentar, bioskop-nya kali ini bertumpahan para pengunjung (baca : rejeki berjalan patut ditunggu) yang baru saja selesai nonton film untuk melanjutkan acara atau pulang. Jadi tamu kali ini adalah pasangan remaja yang sedang menikmati masa kasmaran

“… Bagaimana caranya…, agar kamu tahu bahwa…., kau lebih dari indah…., di dalam hati ini……” -Nikita Willy-

      Setelah pasangan “Dunia milik berdua, yang lain ngontrak” ini tiba di tujuan hang-out berikutnya, aku dan taksiku pun melanjutkan perjalanan. Ketika melalui Terminal Rawamangun ada empat mahasiswa yang minta diantar ke kos-nya, mereka balik ke Jakarta lebih awal untuk tugas kuliah yang akan dikumpulkan besok. Suasana hura-hura dan kasmaran yang berasal dari penumpang sebelumnya kali ini berganti dengan suasana serius untuk meraih masa depan.

      Menjelang sore melewati pool kecil travel Cipaganti, sang taksi kali ini mengantar sepasang kekasih yang baru saja datang dari Bandung untuk menata rencana pernikahan mereka nanti disana….

“…. Setiap langkahmu menjadi harapan bagiku…. Dan jua janjimu menjadi pegangan hidupku……. Semua deritamu tangisan untukku……. Kebahagiaanlah yang slalu kuucap disetiap doaku dan menjadi dambaanku….”

      Mudah-mudahan, lantunan indah dari Utha Likumahuwa ini menyertai tujuan baik mereka itu dalam kisah asmara yang telah beranjak dewasa, happy wedding!

      Tanpa istirahat, aku melanjutkan perjalananku. Kali ini lanjut ke Ancol untuk menjemput mereka-mereka yang akan pulang beristirahat dirumah untuk aktifitas hari Senin besok. Tamu kali ini adalah keluarga dengan tiga anak, ramai dengan berbagai balon ikan, pelampung bebek, boneka paus memenuhi kabin belakang taksi sampai-sampai aku sulit melihat ke belakang dan stiker-stiker SeaWorld, yaitu salah satu tempat yang tadinya dikunjungi dan menyisakan berbagai sahutan ramai anak-anak yang saling rebutan bertanya dan ber-ego dan lama-lama bertengkar, membuat sang ayah dan ibu sibuk meladeni rasa ingin tahu sang anak dan melerai pertengkaran mereka….

“….I believe the children are our are future…., teach them well and let them lead the way…, show them all the beauty they possess inside…. Give them a sense of pride…, to make it easier…., let the children's laughter remind us how we used to be…..”

       Sebuah tembang manis dari Whitney Houston itupun menggambarkan salah satu proses keluarga di dalam taksi yang sedang mengantar keluarga ini pulang, dalam suatu naluri kasih sayang orang tua yaitu “The Greatest Love Of All”.

      Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam ketika hujan turun, dari Tomang  kuarahkan taksiku pulang ke pool-nya ketika tak dinyana ada yang muncul secara tiba-tiba dan memanggilnya dari selipan-selipan bus kota yang berhenti di perempatan Slipi. Tak mau menolak rejeki, aku pun berhenti menyambut sang penumpang yang mengisyaratkan minta buka bagasi dan mengisinya dengan tas yang cukup banyak dan berat, lalu mereka cepat-cepat masuk di tengah derasnya hujan dan bilang “Pak ini jauh ya…., ke Parung gak apa kan?”.

     Merasa iba di tengah hujan dengan bawaan sebanyak itu dan aura sedih yang terasa sangat kuat dari kedua penumpang kakak beradik ini, aku meladeni tujuan yang bakal membuatnya telat masuk pool. Suara tangis kecil sesenggukan namun terasa sangat dalam pun terdengar dari adik perempuan.... 

     “Ini ada makanan buat bapak, ini dari tahlilan pertama bapak kami yang baru saja meninggal”, ujar sang kakak lelaki seraya memberi nasi kotak kepadaku
    “Innalilahi…, semoga arwah beliau sudah tenang disana ya pak,” ucapku lirih.
   “Terimakasih…” jawab sang kakak yang kemudian mereka terdiam dalam suasana lelah dan duka. Taksi melenggang santai dalam hujan rintik di keheningan malam yang gelap dan tiba di Parung tengah malam jam 12 lebih….

     Dipastikan pulang telat, aku bersantai sejenak. Sembari makan nasi kotak dari penumpang tadi, aku pun termenung atas apa apa yang telah terjadi di taksiku hari ini……

“…. And if by chance, that special place…., that you've been dreaming of….. Leads you to a lonely place…, find your strength in love…..”


     Kembali ke pool jauh di Kalibata, taksiku berjalan santai saja karena dengan memburu time limit pun tidak akan sampai dan hanya menambah resiko dengan fisik yang sudah lelah, malam yang gelap dan aspal yang basah.  Radio LiteFM pun diputar untuk menemani perjalanan panjang yang menyendiri ini….

“ ….. From the day we arrive on the planet….. And blinking, step into the sun….. There's more to be seen…., than can ever be seen. More to do…, than can ever be done…..”

    Lagu yang melantun dari Sir Elton John ini seakan merangkum catatan argo sang taksi hari ini, argo yang bercerita akan kisah manusia dalam perjalanan hidupnya. Kisah tentang kelahiran, ulang tahun anak, masa remaja, meraih masa depan, pernikahan, menjadi orang tua sampai kematian…

“… In the Circle of Life…, it's the wheel of fortune…, it's the leap of faith…, it's the band of hope……”



     Jam 01.30 tengah malam, aku tiba di pool yang telah sepi dimana teman-temanku yang sejam lalu masih bikin keramaian telah terbaris rapi dalam istirahat malamnya. Keterlambatanku pun mendapat penalty time limit, yaitu pemotongan komisi untuk pak supir yang sama sekali tidak bikin kesal seperti seharusnya, dan aku terima dengan ikhlas karena merasa telah mendapatkan sesuatu yang lebih di hari itu. Yaitu sebuah pertunjukan Tuhan akan kebesaran-Nya, melalui kisah tentang lingkaran kehidupan yang berbalutkan dengan berbagai bentuk kasih sayang terdalam umat manusia....


“Till we find our place…, on the path unwinding……. In the Circle..., the Circle of Life…..”

4 komentar:

  1. Suka banget gue sama tulisan ini, seakan-akan membawa gue untuk terus baca dan baca. Circle of life, dari sudut pandang seorang sopir taksi, kan? Dengan penumpang yang berbeda-beda dalem 1 hari, bisa membuat cerita yang keren kayak gini. Good job ehehe!

    BalasHapus
  2. ceritanya bagus....Lanjutkan..

    yang satu pramugari galau, nah kalau ini apa ya??? :D

    BalasHapus
  3. jadi inget blog seorang yang punya grlar sarjana, namun terpaksa jadi supir taxi disingapore sono. banyak suka dan dukanya. akhiran blog itupun jadi buku. sayang saya ga bisa ketemu blog itu lagi.

    uni bagus nih blognya mas maherda. ditunggu postingan berikutnya.

    BalasHapus
  4. Terimakasih buat apresiasinya yaa...., bertahap bakal dimuat satu per satu catatan lawas ini

    BalasHapus