Minggu pagi ketika Sudirman-Thamrin menjadi penuh oleh lautan manusia
yang ingin berolahraga, sebuah taksi keluar dari pool-nya untuk
bekerja, mencari berbagai penumpang yang akan menjadi rejekinya di hari
libur ini. Sebuah taksi yang kukendarai. Sendiri.
Tamu pertama datang ketika satpam RSIA
Bunda memanggil sang taksi yang telah ditunggu penumpangnya yaitu
seorang nenek, ibu muda dan bayinya yang baru lahir.
'Selamat datang di
dunia nak…' gumamku nyaris tanpa suara.
“….. For one so small, you seem so strong…. My arms will hold you, keep you safe and warm…. This bond between us can’t be broken… I will be here, don’t you cry ….. ’Cause you’ll be in my heart… Yes, you’ll be in my heart… From this day on now and forever more….”
Lantunan
dari Mr. Philip Collins itu menyertai bahasa tubuh kasih sayang sang
ibu yang berbahagia dengan kehadiran anak pertamanya, ikut menyambut
kehadirannya di dunia melalui mp3 player di taksi sepanjang perjalanan.
Dan sesampainya di rumah tujuan, sang nenek membayar taksi lalu
mereka turun menuju rumah yang telah kehadiran anggota baru
keluarganya. Aku dan taksiku melanjutkan perjalanan, meninggalkan mereka dan
sebuah pertanyaan terbesit,
“Lah, Bapaknya mana….?”
Tak
lama berselang seorang ibu dengan kedua anak balitanya memanggilku yang sedang lewat disekitar komplek perumahan. Dengan membawa kado
dan berdandan ala pesta anak mereka menunjuk sebuah McDonald untuk
menghadiri sebuah pesta ulang tahun….
“…..Happy Birthday to you…., this is your day…. On this day for you we´re gonna love you in every way…..” -NKOTB-
Suasana
meriah penuh keceriaan anak-anak tampak di dalam restaurant
setibanya taksi di tujuan, dan penumpangnya segera bergabung dalam pesta
tersebut.
Aku kembali memacu taksiku, melanjutkan perjalanan di
hari yang semakin siang. Kali ini “sepasukan abg” yang mencegat untuk
diantar menonton film remaja bergenre thriller sejenis “Final Destinaton
4” yang sedang
hits dikalangan pecinta film. Ah sayang, berkali-kali aku dan taksiku mampir ke bioskop, bukan untuk menonton film. Tapi sekedar menurunkan atau menaikkan penumpang.
“When I see your face..., there's not a thing that I would change.... Cause you're amazing..., just the way you are....." -Bruno Mars-
Keceriaan
senandung masa puber mereka ber-6 dalam satu taksi ini membuat gerakan
“gedebukan” yang membuat gerah dimana kemudian mengotori taksiku dengan
jejak tangan di jendela dan sepatu di belakang jok depan. Aku sungguh tak bersabar untuk segera sampai di tujuan!
Setelah
taksi dibersihkan sebentar, bioskop-nya kali ini bertumpahan para
pengunjung (baca : rejeki berjalan patut ditunggu) yang baru saja
selesai nonton film untuk melanjutkan acara atau pulang. Jadi tamu kali
ini adalah pasangan remaja yang sedang menikmati masa kasmaran
“… Bagaimana caranya…, agar kamu tahu bahwa…., kau lebih dari indah…., di dalam hati ini……” -Nikita Willy-
Setelah
pasangan “Dunia milik berdua, yang lain ngontrak” ini tiba di tujuan
hang-out berikutnya, aku dan taksiku pun melanjutkan perjalanan. Ketika melalui
Terminal Rawamangun ada empat mahasiswa yang minta diantar ke kos-nya,
mereka balik ke Jakarta lebih awal untuk tugas kuliah yang akan
dikumpulkan besok. Suasana hura-hura dan kasmaran yang berasal dari
penumpang sebelumnya kali ini berganti dengan suasana serius untuk
meraih masa depan.
Menjelang sore melewati pool
kecil travel Cipaganti, sang taksi kali ini mengantar sepasang kekasih
yang baru saja datang dari Bandung untuk menata rencana pernikahan
mereka nanti disana….
“…. Setiap langkahmu menjadi harapan bagiku…. Dan jua janjimu menjadi pegangan hidupku……. Semua deritamu tangisan untukku……. Kebahagiaanlah yang slalu kuucap disetiap doaku dan menjadi dambaanku….”
Mudah-mudahan,
lantunan indah dari Utha Likumahuwa ini menyertai tujuan baik mereka
itu dalam kisah asmara yang telah beranjak dewasa,
happy wedding!
Tanpa istirahat, aku melanjutkan perjalananku. Kali ini lanjut ke Ancol untuk
menjemput mereka-mereka yang akan pulang beristirahat dirumah untuk
aktifitas hari Senin besok. Tamu kali ini adalah keluarga dengan tiga
anak, ramai dengan berbagai balon ikan, pelampung bebek, boneka paus
memenuhi kabin belakang taksi sampai-sampai aku sulit melihat ke belakang
dan stiker-stiker SeaWorld, yaitu salah satu tempat yang tadinya
dikunjungi dan menyisakan berbagai sahutan ramai anak-anak yang saling
rebutan bertanya dan ber-ego dan lama-lama bertengkar, membuat sang ayah
dan ibu sibuk meladeni rasa ingin tahu sang anak dan melerai pertengkaran
mereka….
“….I believe the children are our are future…., teach them well and let them lead the way…, show them all the beauty they possess inside…. Give them a sense of pride…, to make it easier…., let the children's laughter remind us how we used to be…..”
Sebuah tembang manis
dari Whitney Houston itupun menggambarkan salah satu proses keluarga di
dalam taksi yang sedang mengantar keluarga ini pulang, dalam suatu
naluri kasih sayang orang tua yaitu “The Greatest Love Of All”.
Tak
terasa, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam ketika hujan turun, dari
Tomang kuarahkan taksiku pulang ke pool-nya ketika tak dinyana ada yang muncul secara tiba-tiba dan memanggilnya dari selipan-selipan bus kota yang berhenti di
perempatan Slipi. Tak mau menolak rejeki, aku pun berhenti menyambut
sang penumpang yang mengisyaratkan minta buka bagasi dan mengisinya
dengan tas yang cukup banyak dan berat, lalu mereka cepat-cepat masuk di
tengah derasnya hujan dan bilang
“Pak ini jauh ya…., ke Parung gak apa kan?”.
Merasa
iba di tengah hujan dengan bawaan sebanyak itu dan aura sedih yang
terasa sangat kuat dari kedua penumpang kakak beradik ini, aku meladeni tujuan yang bakal membuatnya telat masuk pool. Suara tangis
kecil sesenggukan namun terasa sangat dalam pun terdengar dari adik
perempuan....
“Ini ada makanan buat bapak, ini dari tahlilan pertama bapak kami yang baru saja meninggal”, ujar sang kakak lelaki seraya memberi nasi kotak kepadaku
“Innalilahi…, semoga arwah beliau sudah tenang disana ya pak,” ucapku lirih.
“Terimakasih…”
jawab sang kakak yang kemudian mereka terdiam dalam suasana lelah
dan duka. Taksi melenggang santai dalam hujan rintik di keheningan
malam yang gelap dan tiba di Parung tengah malam jam 12 lebih….
Dipastikan
pulang telat, aku bersantai sejenak. Sembari makan nasi
kotak dari penumpang tadi, aku pun termenung atas apa apa yang
telah terjadi di taksiku hari ini……
“…. And if by chance, that special place…., that you've been dreaming of….. Leads you to a lonely place…, find your strength in love…..”
Kembali
ke pool jauh di Kalibata, taksiku berjalan santai saja karena
dengan memburu time limit pun tidak akan sampai dan hanya menambah resiko
dengan fisik yang sudah lelah, malam yang gelap dan aspal yang basah. Radio LiteFM pun diputar untuk menemani perjalanan panjang yang
menyendiri ini….
“ ….. From the day we arrive on the planet….. And blinking, step into the sun….. There's more to be seen…., than can ever be seen. More to do…, than can ever be done…..”
Lagu yang melantun dari Sir Elton
John ini seakan merangkum catatan argo sang taksi hari ini, argo yang
bercerita akan kisah manusia dalam perjalanan hidupnya. Kisah tentang
kelahiran, ulang tahun anak, masa remaja, meraih masa depan, pernikahan,
menjadi orang tua sampai kematian…
“… In the Circle of Life…, it's the wheel of fortune…, it's the leap of faith…, it's the band of hope……”
Jam
01.30 tengah malam, aku tiba di pool yang telah sepi dimana
teman-temanku yang sejam lalu masih bikin keramaian telah terbaris rapi
dalam istirahat malamnya. Keterlambatanku pun mendapat penalty time
limit, yaitu pemotongan komisi untuk pak supir yang sama sekali tidak
bikin kesal seperti seharusnya, dan aku terima dengan ikhlas karena
merasa telah mendapatkan sesuatu yang lebih di hari itu. Yaitu sebuah
pertunjukan Tuhan akan kebesaran-Nya, melalui kisah tentang lingkaran
kehidupan yang berbalutkan dengan berbagai bentuk kasih sayang terdalam
umat manusia....
“Till we find our place…, on the path unwinding……. In the Circle..., the Circle of Life…..”